Selasa, 12 Februari 2008

pucat pedih dan mati

gak tau lagi harus apa…….smua jalan pikir udah terkunci

tiba tiba semua asa dan imajinasi mati

seperti laut yang ga bisa lagi meniupkan ombaknya

ga ada guna lagi menunggu

smua omongan terdengar sengau

arah kakipun tak menentu

mungkin udah terlalu lama aku tertidur

otak tertutup kabut tebal

sampai sampai tak mampu lagi melihat

aku tertunduk melihat diriku sekarang…

apalagi untuk diriku yang lalu

pelangi itupun sudah mulai memudarkan warnanya

buat apa hidup kalau harus menghabiskan waktu terkungkung

tersesat oleh cara pikir sendiri

tergeser tak berdaya oleh sang waktu

terdampar didalam rimba ketidakjelasan

pukul saja diriku ini

pukul sampai berdarah…memar dan tak mampu lagi berdiri

habisi sekalian jangan tersisa

aku takkan membalas…dan

aku takkan berteriak

persetan Negara ini

biang keladi dari semuanya

dimana rasa hormat harus dibayar mahal

terkadang harus tersungkur rata di tanah

jangan bicara lagi

apalagi tentang moral

sadarlah kalo emang udah bobrok

mau dibawa kemana lagi sekarang

orang orang semakin sombong

tapi banyak juga yang melompong

hak hak manusia udah semakin semu

hanya perasaan takut yang menyelimuti

terkadang harus berdarah sampai putih tulang terlihat…

hanya untuk memastikan kalau masih hidup

hasratpun tlah menjadi mata mata untuk sang nurani

bicaralah….….bicaralah semaunya….

Kupastikan tak akan ada yang peduli

Dan diamlah………diamlah sesunyinya

Mungkin kau akan terbunuh pelan pelan

Semua warna terlihat pucat pasi…

Setiap senyuman memancarkan kebencian

Dan setiap nasehat akan slalu menyesatkan

Tulisan ini hanyalah mengalir

Mengalir dari otak seseorang yang tidak pernah istimewa

Yang slalu bebas tapi tak pernah seringan kapas

Yang slalu tertawa menutupi ketidakmampuan

Seseorang yang mempunyai hak untuk berbuat salah

Seseorang yang mempunyai hak untuk ingkar

Seseorang yang mempunyai hak untuk menangis

pukul saja diriku ini

pukul sampai berdarah…memar dan tak mampu lagi berdiri

habisi sekalian jangan tersisa

aku takkan membalas…dan

aku takkan berteriak

Tidak ada komentar: