gak tau lagi harus apa…….smua jalan pikir udah terkunci
tiba tiba semua asa dan imajinasi mati
seperti laut yang ga bisa lagi meniupkan ombaknya
ga ada guna lagi menunggu
smua omongan terdengar sengau
arah kakipun tak menentu
mungkin udah terlalu lama aku tertidur
otak tertutup kabut tebal
sampai sampai tak mampu lagi melihat
aku tertunduk melihat diriku sekarang…
apalagi untuk diriku yang lalu
pelangi itupun sudah mulai memudarkan warnanya
buat apa hidup kalau harus menghabiskan waktu terkungkung
tersesat oleh cara pikir sendiri
tergeser tak berdaya oleh sang waktu
terdampar didalam rimba ketidakjelasan
pukul saja diriku ini
pukul sampai berdarah…memar dan tak mampu lagi berdiri
habisi sekalian jangan tersisa
aku takkan membalas…dan
aku takkan berteriak
persetan Negara ini
biang keladi dari semuanya
dimana rasa hormat harus dibayar mahal
terkadang harus tersungkur rata di tanah
jangan bicara lagi
apalagi tentang moral
sadarlah kalo emang udah bobrok
mau dibawa kemana lagi sekarang
orang orang semakin sombong
tapi banyak juga yang melompong
hak hak manusia udah semakin semu
hanya perasaan takut yang menyelimuti
terkadang harus berdarah sampai putih tulang terlihat…
hanya untuk memastikan kalau masih hidup
hasratpun tlah menjadi mata mata untuk sang nurani
bicaralah….….bicaralah semaunya….
Kupastikan tak akan ada yang peduli
Dan diamlah………diamlah sesunyinya
Mungkin kau akan terbunuh pelan pelan
Semua warna terlihat pucat pasi…
Setiap senyuman memancarkan kebencian
Dan setiap nasehat akan slalu menyesatkan
Tulisan ini hanyalah mengalir
Mengalir dari otak seseorang yang tidak pernah istimewa
Yang slalu bebas tapi tak pernah seringan kapas
Yang slalu tertawa menutupi ketidakmampuan
Seseorang yang mempunyai hak untuk berbuat salah
Seseorang yang mempunyai hak untuk ingkar
Seseorang yang mempunyai hak untuk menangis
pukul saja diriku ini
pukul sampai berdarah…memar dan tak mampu lagi berdiri
habisi sekalian jangan tersisa
aku takkan membalas…dan
aku takkan berteriak